Tuesday, September 12, 2006

Ketika Sultan Marah

Hmmmmm........
Siapa yang benar? Mmm... memperdebatkan (kriteria) kebenaran itu (hampir) sama halnya memperdebatkan selera. Kita tahu, selera adalah salah satu hal dalam kehidupan yang sama sekali tak bisa (tak perlu) diperdebatkan. Begitu pula dengan kriteria kebenaran. Orang bilang kebenaran itu tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Dengan kata lain, kebenaran versi siapa dulu. Nah, SIAPA di sini tentu akan menunjukkan dasar paham (isme), ideologi, dan prinsip yang dianutnya; yang menjadi sudut pandang untuk menemukan kebenaran itu.


Lalu?
Ya.. lalu.. ketika aku membaca situasi dan kondisi yang berlangsung, semuanya tampak semakin jelas. Terang saja Sultan "marah" ketika hal yang beliau restui dianggap sebagai "ide gila". Siapa sangka zaman telah berubah. Siapa sangka seorang wakil Allah (Tuhan) di dunia, seorang kalifatullah, yang segala ucapan dan perbuatannya selalu dijadikan panutan karena kualitas kebenarannya yang (bisa dikatakan) mutlak bisa dicap tak paham masalah pusaka budaya adiluhung yang tak bisa dipungkiri sudah menjadi pernak-pernik dalam kehidupan kesehariannya sejak lahir.


Namun, beginulah, zaman memang telah berubah. Sekarang tidak zamannya lagi tunduk patuh tanpa syarat pada suatu keyakinan. Berani bersikap adalah salah satu wujud hasil perubahan zaman. Tak hanya Sang Penguasa yang berhak bersikap. Semua orang pun berhak memiliki dan mengutarakan sikapnya. Tentu saja, penyikapan itu akan selalu didasarkan pada kebenaran yang diyakini oleh masing-masing orang.


Sejuta orang bisa memiliki sejuta sikap, tetapi bisa pula memiliki satu sikap saja. Jadi, wajar saja kalau ada perbedaan sikap antara "Sultan" dengan beberapa pihak dalam masyarakat yang berada di bawah pemerintahannya. Syukurlah sekarang situasi (sudah) lebih kondusif bagi perbedaan pendapat. (Semoga) tak ada pemaksaan pendapat, terutama dari yang berkuasa kepada yang dikuasai. Namun, kita masih bisa yakin bahwa pendapat siapakah yang nantinya akan menjadi prioritas untuk ditindaklanjuti, dalam arti dijadikan/disahkan sebagai sebuah kebijakan bagi publik. Berangkat dari hal-hal tsb akhirnya aku ingin mencoba untuk sedikit membedah apa yang sebenarnya menjadi dasar pendapat2 yang sudah bertarung memperebutkan klaim kebenaran.


Dalam kasus Alun-alun Utara, pihak-pihak yang terdiri dari para pemerhati kelestarian (pusaka) budaya memiliki prinsip bahwa aktivitas yang akan dikenakan terhadap tanah lapang itu sama sekali telah menghancurkan nilai pusaka yang dikandungnya. Sementara, Sultan berpendirian bahwa pembangunan tsb tidak akan merusak nilai pusaka Alun-alun Utara dan kraton seklipun. Beliauuu bersikukuh bahwa kesakralan kraton dan elemennya tetap terjaga, toh poros utara-selatan (Merapi-Prangtritis) tidak akan berubah/terhalang. Baginya, konsep pusaka adalah nilai tradisi dan budaya, bukan sebuah wujud fisik. Tak heran Sultan pun balik mencap para pakar budaya yang menyerangnya itu tak paham makna pusaka yang sebenarnya karena terlalu berorientasi pada perwujudan fisik semata. Sungguh beruntung Yogyakarta memiliki sultan sekaligus gubernur yang begitu peduli terhadap pusaka budaya. Namun, benar begitukah?

Sekilas mata memandang dan otak berputar memang tampak benar adanya. Namun, apa yang terasa manis di mulut belum tentu berasa manis di dalam hati. Konsep pemaknaan pusaka adiluhung yang diutarakan Sultan tsb memang mulia. Tetapi, ketika tahu bahwa dalam aplikasinya di lapangan maka baru akan tampak nilai minusnya. Memang benar secara fisik Alun-alun Utara tidak akan berubah permukaannya dan tidak akan mengganggu sumbu imajiner Panggung Krapyak - Tugu. Namun, pemaknaan filosofis itu menjadi buyar seketika ketika tahu bahwa kepentingan yang mendasari proyek di bawah tanah Alun-alun Utara itu ternyata berorientasi pada kepentingan ekonomis pemodal besar. Pemaknaan nan luhur sebelumnya justru takluk di bawah bayang-bayang kepentingan kapitalis.


Dalam kasus ini, Sultan tampak berusaha berlindung di balik konsep pemaknaan filosofis yang tidak melulu mementingkan aspek-aspek fisik/bendawi. Di situ beliau bahkan mengajak masyarakat untuk lebih memaknai pusaka pada nilai yang dikandungnya, bukan bentuknya secara fisik. Namun, ternyata pemaknaan filosofis tsb malah menjadi sebuah sarana untuk membelokkan opini publik, terutama untuk membantah serangan para pemerhati kelestarian benda cagar budaya. Namun, ujung-ujungnya pun ternyata juga tetap berorientasi pada kepentingan bendawi/fisik semata.


Seperti yang telah sering disampaikan oleh para pemerhati kelestarian pusaka budaya, proyek pembangunan parkir bawah tanah di Alun-alun Utara itu merupakan proyek yang tak jelas arah tujuannya. Hal ini menegaskan bahwa pemerintah kota dan daerah tidak memiliki rencana pembangunan jangka panjang yang berwawasan jauh ke depan. Gerak pembangunan yang dilakukan pun tampak cenderung bersifat reaktif dan tidak memberikan solusi. Banyak pihak mempertanyakan kepentingan pembangunan parkir bawah tanah tsb apakah benar-benar ditujukan untuk mengatasi problem transportasi kota dan tata ruang kawasan. Jika ya, jelas proyek ini menjadi proyek yang salah kaprah. Pertama, Alun-alun Utara yang merupakan kawasan inti cagar budaya justru dijadikan kawasan penyangga bagi kawasan di sekitarnya (terutama Malioboro) dengan digunakannya area tsb sebagai lahan parkir. Kedua, pemerintah tampak sengaja mengabaikan keberadaan ruang-ruang parkir yang sudah ada dan selama ini tidak difungsikan secara optimal, seperti Taman Parkir Ngabean. Selain itu, masyarakat selama ini selalu tidak memiliki akses yang memadai untuk memantau keabsahan proyek tsb, terutama berdasarkan legalitas produk hukumnya, misalnya Perda Kawasan Cagar Budaya, UU tentang Benda Cagar Budaya, UU Lingkungan Hidup, hingga Rencana Tata Ruang Kawasan.


Kejanggalan semakin menjadi ketika mengetahui bahwa investor diizinkan untuk membangun pusat perbelanjaan (mal) bawah tanah. Jika demikian, jelas upaya pemaknaan pusaka di atas menjadi tidak ada artinya. Jika proyek ini jadi terwujud, Sultan secara meyakinkan tidak hanya tidak memiliki penghargaan terhadap pusaka budaya bendawi, tetapi juga mengobrak-abrik konsep filosofis luhur yang selama ini coba beliauuu gembar-gemborkan sendiri. Jadi, memang patut disayangkan ketika mengetahui bahwa tingkat pemahaman mengenai pusaka budaya figur yang seharusnya menjadi panutan generasi mendatang ini hanya berhenti sampai di situ. Ambillah Sultan memang paham lebih dalam, tetapi faktanya beliauuuu telah tertaklukkan oleh kepentingan duniawi yang justru membuyarkan semua ungkapan luhur yang pernah diucapkannya.


Hal yang perlu dijadikan perhatian adalah bahwa perspektif yang dilontarkan oleh Sultan itu tidak muncul sebagai petarung tanpa kawan belaka. Ada banyak pihak di belakangnya yang jelas telah menebar benih pemahaman pembangunan yang salah kaprah tsb. Hal itu semua disebabkan oleh pemahaman paradigma yang salah. Selama ini pemerintah menganut paradigma modernisasi dan strategi pembangunan yang mengutamakan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dengan kata lain, yang dibangun oleh pemerintah hanyalah kue pertumbuhan ekonomi secara statistik, bukannya masyarakat. Paradigma seperti itu serta merta melenyapkan berbagai kelembagaan dan kearifan lokal beserta lingkungan alamnya. Berbagai kearifan lokal yang selama ini dianggap tidak modern pun tertinggalkan dan mulai terkikis habis. Ketika krisis ekonomi melanda negeri ini dan seluruh sektor modern lumpuh, masyarakat baru tersadar bahwa berbagai jargon pembangunan hanyalah bungkus dari sebuah kekuatan kapitalisme global yang menghegemoni, mengeksploitasi, dan menindas masyarakat. Paham-paham pembangunan seperti itu telah terbukti gagal dan perlu dimunculkan paradigma alternatif yang berbasis kerakyatan yang sesungguhnya. Namun, tampaknya pemerintah lokal di Yogyakarta belum bisa belajar banyak dari pengalaman yang telah lalu.


Beginulah...
Sudah terpaparkan apa yang sebenarnya dijadikan dasar pemikiran, ideologi, dan prinsip yang diyakini oleh penguasa daerah yang dipucuki seorang birokrat sekaligus pucuk tokoh budaya. Baginya, kebenaran adalah apa yang ia yakini. Begitu pula bagi yang lain, bukan? Apakah kita sudah benar-benar cukup dewasa untuk mendialogkan semua perbedaan itu? Tampaknya masing-masing begitu kukuh mempertahankan prinsipnya kuat-kuat. Oleh karena itu, jelas sebuah dialog terbuka yang sesungguhnya tampaknya akan sulit terlaksana. Impian untuk meraih tata kelola pemerintahan yang baik dengan perencanaan pembangunan yang berbasis kerakyatan pun masih terasa jauh. Yah, bagaimana lagi, jangan menutup mata bahwa sebenarnya kita masih benar-benar hidup dalam sebuah kerajaan yang sebenarnya. Ah, entahlah......



Elanto Wijoyono

Tulisan ini pertama kali muncul di milis greenmapper_jogja@yahoogroups.com pada tanggal 5 Desember 2005

Alun-Alun Utara; Sindiran yang Jadi Kenyataan

Temen2,
Hari ini aku baca tajuk rencana SKH Kedaulatan Rakyat (01/12) mengenai rencana pembangunan parkir bawah tanah di Alun-alun Utara. Pada awalnya tulisan itu tampak cukup wajar. Namun, menuju akhir tulisan, isinya menjadi tidak wajar, walaupun si penulis mencoba untuk menempatkan posisi masing-masing stakeholders secara seimbang. Tajuk rencana itu kemudian menjadi sebuah tulisan yang bobotnya patut dipertanyakan. Mutu sih mutu, ning ya mung sithik. Sithik'e nganggo bangeeet...


Ada beberapa hal yang bisa aku ambil dari hal di atas. Pertama, aku jadi semakin bisa menebak orientasi posisi media massa cetak tersebut. Aku jadi bisa makin yakin bahwa media massa cetak tertua di Indonesia yang masih eksis ini mendukung kepentingan sekelompok elit, yang kebetulan memang (masih) sangat berkuasa di Yogyakarta.


Kedua, aku jadi semakin yakin bahwa memang masih banyak perbedaan persepsi di masyarakat, yang berpendidikan sekalipun (seperti si penulis tajuk rencana tsb.... kelihatannya aku tahu siapa dia) mengenai modernisme. Jelas banyak yang menyalahartikan modernisme. Banyak pemahaman mengenai hal tsb, tetapi sayangnya hanya berhenti di tataran modernitas. Alih-alih ingin menjadi masyarakat modern, mengalami peradaban modern, tetapi sayang hanya polesan di permukaan. Si penulis tajuk tsb mencoba mencekoki pembaca dengan kota-kota modern di luar negeri sebagai referensi kemajuan. Namun, hhh... maaf saja, dangkal! Hal itu mencerminkan sejauh mana pemahaman dia tentang peradaban dan proses perubahan kebudayaan. Ya, pemahamanku juga gak banyak, tapi pede aja... aku gak senaif dia.


Tulisan Maha Konyol dalam tajuk rencana itu sebenarnya sudah mendapatkan tentangan secara tersirat dari Tulisan Maha Hebat yang termuat dalam media yang sama, tanggal yang sama. Ya, Esai Prof. Dr. T. Jacob. Apakah jawaban itu? Pernyataan bahwa perubahan itu tidak selalu identik dengan kemajuan..!!!


Kita tahu bagaimana kenyataan di masyarakat bahwa kemajuan sering dianggap sebagai perubahan, meninggalkan yang lama, menuju dan memakai yang baru. Jadi, jika ada sebuah kota yang secara fisik begitu statis, tidak ada perubahan, dianggap tidak maju. Jika ada orang yang beralih dari naik mobil pribadi ke sepeda atau transportasi publik dianggap mengalami kemunduran. Sesuatu yang tampak futuristik dan berbau kebarat-baratan dianggap sebagai kemajuan. Kita malu jika melihat pasar-pasar di kota kita yang begitu pengap dan bau. Kita jadi mendambakan sebuah pasar yang bersih, anggun, indah, cantik, dan modern, seperti halnya wujud orang-orang yang pantas masuk model pasar seperti itu. Kita sering menganggap bahwa kita sudah ketinggalan jauh dari negara-negara maju. Kita ingin mengejarnya. Boleh2 saja. Tapi sayang, kita cuma bisa memoles permukaannya saja. Jelas saja barat kapitalis begitu senang dan menganggap Indonesia sebagai negara sahabat, bisnis terutama.


Mungkin banyak yang sudah lupa bahwa zaman dan peradaban sudah bergerak cepat. Masyarakat kita masih banyak yang berpikiran bahwa masyarakat negara maju begitu senang dengan peradaban yang mereka miliki. Ya, bahwa mereka hidup dalam dunia yang serba sempurna, seperti yang banyak diangankan oleh masyarakat kita. Tapi mungkin banyak di antara masyarakat kita yang tidak tahu bahwa peradaban barat/negara maju tidaklah secerah yang kita bayangkan. Kita tentu akan kaget jika mendapati bahwa masyarakat sana merasa belum tentu selalu nyaman dengan kehidupan seperti itu, kehidupan bak sebuah komponen mesin rakitan atau robot. Mereka juga mulai sering mengeluhkan betapa peradaban mereka seakan tidak lagi memiliki identitas. Hampir semua kota di negara maju itu seragam wujudnya. Bosan...


Selain itu, masyarakat mungkin justru mengesampingkan bahwa di negara-negara majulah kekayaan pusaka budaya bisa terpelihara dengan baik. Jika melihat wujud kota Paris, London, Roma, dan lain-lainnya maka yang tampak adalah sebuah kota dengan tampilan lansekap dan arsitektur lama yang tetap menghiasi wajah kota/kawasan. Tentu saja di samping itu terdapatlah berbagai wujud fisik hasil pembangunan yang serba baru, modern, dan canggih... Ya, begitulah. Ada dua kepentingan yang tetap coba diberi wadah, dan itu bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Bahkan di negara maju sekalipun, yang orang-orangnya memiliki kepatuhan terhadap aturan main yang ada.


Kita tahu bahwa bangsa kita suka yang instan-instan. Inilah tantangannya. Saat ini masyarakat kota Yogyakarta khususnya dihadapakan dengan tantangan besar. Mau gak mau kita harus mampu menanggapinya. Namun, hati-hati, salah melangkah, taruhannya terlalu mahal.


Alun-Alun Utara yang terletak di kawasan inti cagar budaya akan memiliki lapangan parkir bawah tanah dan pusat perbelanjaan di dalam perutnya. Ini bukan lagi masalah bagi beberapa pihak saja. Ini adalah masalah seluruh warga kota. Memang isu terbesar adalah masalah pelestarian Alun-alun Utara sebagai heritage. Tapi, ada lagi masalah besar lainnya, yang jelas akan memberi dampak pada kehidupan seluruh warga kota. Ini bukan sekedar masalah teknis mengenai perlunya ruang untuk parkir dan pembukaan lapangan kerja. Basi! Masalah ini lebih pada masalah kepentingan elit untuk memaksakan kehendaknya, yang mereka sebut sebagai solusi terhadap berbagai permasalahan kota.


Bukan lagi hanya berhadapan dengan pihak yang tidak paham atau peduli dengan kelestarian pusaka, tetapi pihak bermodal besar yang bisa melakukan apa saja asalkan kepentingannya tercapai. Jangan tutup mata. Disadari atau tidak, kapitalis sudah begitu merasuk ke dalam kehidupan. Bahkan institusi pemegang dan pemelihara tradisi pun sudah begitu kapitalis pula. Nggak perlu di bahas bagaimana dampak kapitalisme bagi masyarakat non-industri.


Hmm..mungkin bicara terlalu banyak konsep tidak akan ada habisnya, walaupun itu perlu juga. Kita perlu memikirkan cara praktis dan solutif untuk menanggapi masalah ini. Memang kapitalis itu akan selalu menang (kalau kalah bukan kapitalis namanya). Namun, bukan berarti mereka bisa melenggang santai tanpa perlawanan. Ya tinggal bagaimana cara yang tepat untuk melawannya saja.


Tampaknya akan sangat susah untuk membalikkan kesepakatan yang sudah terlanjur ditandatangani itu. Nggak mungkin batal deh. Menurutku, sesuai dengan kemampuan kita, langkah jitu yang bisa kita lakukan adalah memberi keterangan kepada masyarakat mengenai hal ini. Boleh saja proyek fisik itu tetap berjalan, tetapi sebisa mungkin kita usahakan agar opini massa tidak sependapat dengan proyek tsb. Sekarang tinggal bagaimana caranya untuk menggalang kekuatan yang bisa mencekoki masyarakat dengan informasi-informasi yang benar, informasi yang berdasarkan pada semangat kemandirian masyarakat dan keberlanjutannya. Satu media lokal besar telah terkooptasi. Mau nggak mau, media lainnya harus kita ajak sebagai mitra perlawanan.


Informasikan kepada masyarakat prinsip-prinsip yang benar dari segala bidang yang terkait. Informasikan hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Informasikan prinsip penegakan hukum yang bermartabat. Informasikan model pembangunan dan sistem ekonomi berbasis kerakyatan yang sesungguhnya. Informasikan rencana tata ruang kota/kawasan yang ada dan yang ideal. Informasikan sistem transportasi yang adil, murah, dan ramah lingkungan. Informasikan bahwa demokrasi tidak hanya berlaku dalam Pemilu, tetapi juga dalam masalah kebijakan. Tunjukkan bahwa masyarakatlah yang merupakan pemilik kota ini, bukan sekelompok elit yang masih silau dengan harta dan kekuasaan. Informasikan pula apa yang terjadi di kota-kota lain di dunia sebagai contoh dan perbandingan secara wajar. Beri contoh bagaimana sistem pengelolaan kota yang baik dan yang buruk. Dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan..........


Hmm, aku kira banyak yang bisa dan mampu melakukan itu.....
Tapi yang mau melakukannya............ TIDAK BANYAK!!!




Hi..hi..hi..
Jadi ingat demonstrasi para seniman yang dikomandoi oleh KERUPUK beberapa waktu lalu. Masih lekat dalam ingatan kita papan nama dan barisan manusia membawa huruf-huruf raksasa di Alun-alun Utara bertuliskan......... "Di Sini Akan Dibangun Mall". Sindiran yang cukup telak. Dan sekarang, sedang menuju menjadi sebuah kenyataan. Balasan yang cukup telak juga, kan?!


Nggak heran.

Seperti yang dibilang oleh seorang teman yang seniman, "Maklum, Sultan kan anak mall..!!!"



Elanto Wijoyono

Tulisan ini pertama kali muncul di milis greenmapper_jogja@yahoogroups.com pada tanggal 1 Desember 2005.

Thursday, June 22, 2006

Memahami Alam dan Kehidupan

Logika kehidupan itu sederhana, tetapi manusia lebih senang memandang kerumitannya.

Kadang manusia mencoba menyederhanakannya, tetapi justru membuatnya semakin rumit dan tak menyelesaikan apapun.

Orang bilang jangan bunuh harimau

Kalau ada seekor harimau menerkam manusia

Bolehkan kita bebas bunuh harimau?

Orang bilang jangan tebang pohon

Kalau ada sebatang pohon menimpa orang

Bolehkah kita bebas tebang pohon?

Orang bilang jangan bunuh orang

Kalau ada seseorang membunuh orang lain

Bolehkan kita bebas bunuh orang?

Tak lagi bicara mana yang lebih penting

Nyawa siapa yang lebih berharga

Kita bicara apa yang terjadi

Dan mengapa terjadi

Manusia tahu di alam di ada kehidupan

Alam sendiri hidup

Manusia sering dan senang mengamati alam

Manusia insyaf bahwa alam itu punya hukum dan jalan hidup

Namun, manusia sering merasa dirinya berada di luar lingkaran

Bahwa alam sebagai sesuatu yang lain dari sebuah makhluk bernama manusia

Manusia semakin terpisah dari alam

Manusia sengaja menempatkan diri di seberang

Alam sering membawa keuntungan yang membuat manusia senang

Manusia sering tidak sabar menunggu dan berusaha mencari sendiri di tubuh alam

Mencoba meraup keuntungan sebanyak ia bisa

Lapang dada alam memperbolehkan

Namun, kadang alam dianggap membuat manusia sengsara

Manusia sering tidak terima

Akhirnya alam pun disalahkan

Sayang tidak ada pengadilan yang bisa menuntut alam

Hanya pasrah dan menggerutu akhirnya

Alam tak habis pikir

Mengapa dirinya sering disebut sebagai sumber malapetaka?

Bukankah semua yang terjadi pada alam adalah sesuatu yang wajar

Namun, ketika manusia tersangkut di dalamnya

Dan menderita kerugian

Disebutnya bencana

Bencana alam

Manusia akhirnya menjadi hakim

Menilai baik dan buruk

Apa-apa yang terjadi pada dirinya dari sesuatu di luar dirinya

Termasuk alam

Kapan manjadi kawan dan kapan menjadi lawan

Manusia tak lagi sadar

Bahwa ia juga bagian dari alam

Tak terpisahkan

Manusia merasa berbeda

Merasa berhak dan bahkan wajib menilai hingga merasa menjadi pemilik

Manusia beternak alam

Ternak harus memberi keuntungan pada pemiliknya

Kalau tidak atau bahkan melawan pemiliknya maka dianggap musuh

Kapanpun harus menyediakan apa-apa yang dibutuhkan manusia

Bahkan kalau perlu manusia memaksa agar diberi

Disuapnya alam dengan pakan pestisida hingga bakar hutan

Agar manusia bisa selalu mengeruk hasil

Kalau tak lagi memberi hasil

Segera cari yang lain

Tinggalkan alam yang kesakitan

Alam yang sakit tak bisa lagi menempuh hukum dan jalan hidupnya dengan wajar

Sakit alam menebar ke segala penjuru

Dari tanah longsor, banjir, hama, hingga pemanasan iklim global

Sumpah serapah manusia mencerca

Mencoba mencari kambing hitam

Tak mau akui andil mereka sendiri

Kerdil manusia di hadapan alam memang diakui

Namun, tak kurangi tingkah pongah manusia

Padahal mereka makhluk yang berpikir

Gunakan otak tanpa logika

Gunakan hati tanpa perasaan

Tak mau lagi belajar

Ada kalanya manusia tak berdaya

Ada kalanya manusia berkuasa

Manusia punya mandat mengolah alam

Namun, ia tetap di dalam wilayah hukum dan jalan hidup alam

Manusia bisa mengubah alam

Namun, alam tetap akan mencari jalannya sendiri

Kadang manusia malu mengakui sejarah kepandaian leluhur

Kepandaian berlandas rasa bijak hormat sebagai bagian dari alam

Bahwa manusia hanya perlu menyesuaikan diri

Istilah kerennya adaptasi

Tapi sekarang kok malah alam yang disuruh beradaptasi

Jangan-jangan kerja manusia hanya bisa mengambil tanpa bisa memberi

Hanya bisa merusak tanpa bisa memperbaiki

Bahkan hanya sibuk saling berkelahi

Berebut sumberdaya menggiurkan

Tanpa bisa lagi membaca wajah utuh alam

Sama saja menunggu maut datang menjemput

Mau tak mau

Aturan main harus dilakoni

Selama mau jadi bagian dari alam

Kalau tidak, enyah saja dari alam

Pergi ke alam lain

Akal pikir manusia pastilah bisa memilah dan memilih

Perilaku yang pantas agar alam tetap lestari

Perilaku yang awas agar manusia tetap lestari

Karena keduanya penting

Karena keduanya berharga

Karena keduanya hidup

Karena dua itu adalah satu itu

Yogyakarta 31012006